HMF (Hydroxy Methyl Furfuraldehyde)

Pengujian kadar HMF merupakan metode yang selalu digunakan untuk menguji kesegaran dan keaslian madu.

 

Madu biasanya memiliki kadar dibawah 1 mg/kg namun dapat terus meningkat apabila suhu sekitar mencapai 20°C. Suhu pada sarang lebah dapat mencapai 40°C selama musim  panas, dan biasanya kadar HMF menjadi lebih dari 1 mg/kg namun kurang dari 10 mg/kg.

 

Tingginya kadar HMF menandakan pemanasan yang berlebihan selama proses ekstraksi. Beberapa negara menetapkan kadar maksimal HMF sebesar 40 mg/kg. Namun untuk madu yang berasal dari daerah tropis menetapkan kadar HMF tidak boleh lebih dari 80 mg/kg. Hal ini dikarenakan pembentukan HMF yang tergantung dari pH dan suhu.

 

Tingginya kadar HMF pada madu asli dari daerah tropis hampir sama dengan madu palsu, hal ini akan mempersulit untuk membedakan madu murni dan madu palsu dengan menggunakan pengujian kadar HMF saja.

 

Ada 3 metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar HMF :

  1. Pengukuran langsung menggunakan absorbansi HMF pada panjang gelombang 284 nm.
  2. Metode “The Winkler”. Metode ini menggunakan photometric dan sering digunakan di Jerman. Metode “The Winkler” juga sudah terdaftar di AOAC dihapus beberapa tahun yang lalu karena menggunakan bahan yang mengandung karsinogenik.
  3. HPLC Method. Menggunakan pengukuran dengan absorbansi pada panjang gelombang 284 nm. Metode ini baru saja didaftarkan pada AOAC namun langsung terkenal dan tersebar luas.

Madu murni seperti ini hanya bisa diperoleh dari sarang lebah yang sudah tua (layak panen,ditandai dengan sarang lebah yang telah tertutup). Sedangkan madu murni yang diambil saat madu masih muda (belum saatnya dipanen, ditandai dengan sarang lebah yang belum menutup), dihasilkan madu yang kurang berkualitas.
Madu murni tidak berkualitas.

Madu dikategorikan dalam jenis ini jika madu tersebut tidak memenuhi standard mutu madu SNI 01-3545-2004, biarpun diambil langsung dari sarangnya. Sebagai contoh,madu yang berkadar air 23%b/b ke atas.Madu dalam kategori ini masih layak dikonsumsi selama belum mengalami proses fermentasi.

Kalau sudah fermentasi ditandai dengan ciri-ciri fisik diantaranya ber-gas, berbuih banyak, berbau tidak sedap (bau alkohol), rasanya asam dan saat diminum tenggorokan terasa sakit.

Jenis lebah yang paling banyak menghasilkan madu adalah lebah lokal (apis cerana), lebah liar (apis dorsata), dan lebah Eropa (apis mellifera).

Rasa madu ditentukan oleh jenis bunga yang dihisap dari tumbuhan sebagai pakan lebah, misalnya Madu Kelengkeng, lebah pekerja mengambil nektar di bunga kelengkeng (perkebunan kelengkeng).

Komponen penyusun madu adalah air, gula (fruktosa, glukosa, maltosa, sukrosa), mineral (Ca, Na, P, Fe, Mg, Mn), Vitamin (B1, B2, B5, B6, C), dan enzim.

Adapun madu yang kami jual adalah madu murni yang memenuhi persyaratan sesuai SNI No. 01 – 3534 Tahun 2004, madu perhutani murni yang telah teruji .

© 2018 Madu Perhutani. All Right Reserved